Peduli Cagar Budaya Jembatan Pulosari, Tamasja Tourism Center Ajak Bersih Bersih
MalangSatu – Kondisi memprihatinkan Jembatan Pulosari yang berada di Jalan Kawi Atas memantik Tamasja Tourism Center. Jembatan yang menjadi penghubung antara Jalan Kawi dan Dieng ini memang suram, dengan tembok yang sudah kusam dan pilar jembatan yang tak terawat.
Tamasja Tourism Center menggandeng berbagai pihak diantaranya Volunteer Cagar Budaya, Paguyuban Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Malang Heritage Community dan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) bahu membahu untuk mempercantik jembatan ini. Pengecatan yang dilakukan secara gotong-royong dan untuk segala fasilitas dibatntu oleh Corporate Social Responsibility (CSR).
Kegiatan positif ini menarik perhatian anggota Dewan Perwakilan Daerah Kota Malang, Ahmad Fuad Rahmad yang secara spontan datang ke lokasi.
“Kegiatan ini sangat positif dan kami sangat mengapresiasi. Bersih-bersih cagar budaya jangan hanya berhenti di tempat ini saja tapi harus berkelanjutan dan konsisten” ungkap anggota Komisi C ini saat menghadiri kegiatan. Minggu (09/08/2020).
Pria berkacamata ini pun berharap kepedulian terhadap cagar budaya tidak hanya dilakukan oleh komunitas saja namun juga dapat dilaksanakan oleh masyarakat dan tentu saja Pemerintah.
Hal senada diungkapkan oleh Seketaris Tim Ahli Cagar Budaya, Agung H Buana bahwa kegiatan serupa akan tetap dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap bangunan lama dan upaya mempercantik Kota Malang.

Usai kegiatan, acara dilanjut ramah tamah di Fendi’s Homestay yang juga merupakan pendukung kegiatan. Suasana adem begitu terasa saat memasuki rumah yang masih orisinil ini. Tak mengherankan pasalnya R. Panji Efendi Suryo Saputro sang pemilik menata arsitektur bangunan dengan begitu apik dengan interior yang klasik dan bernilai seni.
“Rumah Fendi’s ini belum pernah dilakukan pemugaran, masih orisinil. Hanya ada beberapa tambahan bangunan karena kebutuhan dan bangunan ini sudah masuk cagar budaya” ungkap Budi Fathoni, Dosen Arsitektur Institut Teknologi Nasional ini menjelaskan.
Pria yang gemar mengenakan topi Kolonial ini sehingga akrab dipanggil Meener inipun pemerhati Cagar Budaya. Tidak berlebihan jika ia kadang marah apabila pemilik rumah cagar budaya membongkar rumah tanpa sesuai prosedur.
“Semoga kegiatan bersih-bersih cagar budaya ini menjadi racun dan candu positif mempertahankan heritage yang mulai terlupa,” ungkap Budi Fathoni.
Jembatan Pulosari dibangun pada medio 1920 hingga 1930 bagian bawah difungsikan sebagai lori yang menuju ke Kebon Agung. Bisa dikatakan jembatan ini merupakan heritage yakni sebagai suatu warisan masa lalu yang saat ini masih digunakan. Di bawah jembatan terdapat dam dimana airnya mengering karena musim kemarau. Namun saat musim penghujan tiba dam ini tidak mampu menahan debit air sehingga terjadi banjir. Ironi, mengingat Kota Malang adalah dataran tinggi. (Red)
Berita ini telah dimuat di AdaDiMalang




